Di bawah naungan pohon yang rimbun, seorang ibu duduk di depan alat tenunnya. Matahari sore memancarkan sinarnya, memberi kehangatan yang samar pada kulitnya yang keriput. Namanya Ibu Helena, seorang wanita yang telah menjalani kehidupan panjang dengan keteguhan hati. Di dep annya, terbentang benang-benang warna-warni yang dia susun dengan cermat menjadi kain tenun. Setiap helai benang yang dia tarik seakan membawa kisah dari masa lalunya sampai kisah cinta, kehilangan, dan ketabahan. Sudah sebelas tahun berlalu sejak suaminya, Bapak wayo dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Hari itu, tanggal 16 Februari 2013, menjadi hari yang mengubah hidup Ibu Helena selamanya. Bapak wayo jatuh sakit dan berhujung ke pangkuan ilahi tak lain ibu Helena bersama anak dan keluaga menerima kenyataan pahit itu. Dalam sekejap, sosok yang selama ini menjadi sandarannya pergi untuk selama-lamanya. Hati Ibu Helena remuk redam, namun dia tahu, sebagai ibu rumah tangga yang kini sendir...
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam usaha untuk mengakarkan iman dalam Gereja lokal hubungan atau relasi antara iman dan kebudayaan sangatlah penting. Kebudayaan diakui sebagai salah satu unsur penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya Gereja. Konsili Vatikan II memandang kebudayaan sebagai ciri pribadi manusia, bahwa ia hanya dapat menuju kepenuhan kemanusiaannya yang sejati melalui kebudayaan, yakni dengan memelihara apa yang serba baik dan bernilai pada kodratnya. [1] Dalam pendekatan budaya Gaudium et Spes bagian dua, bab dua, artikel dua berbicara tentang berbagai kaidah untuk dengan tepat mengembangkan kebudayaan. Pembahasan mengenai pembangunan kebudayaan, meliputi situasi kebudayaan zaman modern, kaidah-kaidah yang benar dalam pembangunan kebudayaan, serta dalam merencanakan tugas-tugas umat Kristen sehubungan dengan pengembangan kebudayaan. [2] Secara khusus di dalam Gaudium et...
Foto: Sr. Hironima Tidak ada yang benar-benar tahu betapa berat hidup yang ia pikul, kecuali Tuhan… dan hatinya sendiri. Sejak kecil ia belajar bahwa bahagia kadang harus disimpan dalam diam, dan luka kadang harus ditelan seorang diri agar ibu tidak khawatir, agar adiknya tetap tersenyum dengan caranya yang polos. Ia tumbuh bukan dengan kemewahan, melainkan dengan doanya ibunya yang mengeras seperti tiang menahan rumah yang hampir roboh. Dan dia anak perempuan itu… memilih menjadi suster, karena ia ingin hidupnya menjadi jawaban dari doa-doa yang dulu ibunya ucapkan dalam gelap, sambil menahan tangis. Lalu ia masuk kuliah, di saat banyak orang menyerah karena hidup tak memihak. Ia bertahan, meski kadang harus memilih antara makan atau ongkos, antara tidur atau menyelesaikan tugas, antara menangis atau pura-pura kuat. Ia selalu memilih kuat, Meski hatinya retak. Pernah suatu malam, Saat semua orang tidur, ia ...
Komentar
Posting Komentar