Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN Dady,,,, Meskipun engkau  tak pernah menangis dihadapanku akibat  lelah ataupun letih dalam bekerja, namun ku tau air matamu engkau teteskan saat aku tak berada didekatmu. Sering kali aku melihat seorang istri memarahi suaminya karena sang suami tak mampu memenuhi keinginannya. Sering kali juga kumelihat seorang anak berbicara kasar pada ayahnya karena sang ayah tidak mampu membelikan apa yang disukainya. Kepala keluarga mana yang tak  menginginkan keluarganya bahagia. Sebelum engkau memarahinya, lihatlah dan renungkan apa yang telah dilakukan olehnya. Betapa jeri payahnya kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan anak istrinya agar bahagia. Sadrkah dirimu jikalau suamimu atau ayahmu  sering kali  dicaci maki, dihujat majikannya atau pimpinannya tempatnya bekerja?. Taukah dirimu kalau suamimu atau ayahmu mungkin  mendapatkan cemooan atau kata-kata kasar di luar sana.? Taukah dirimu mungkin suamimu atau ayahmu bahkan baru s...

Kemarau yang Sengaja Dibiarkan

Gambar
Tiga bulan kemarau menggantung di langit, tanah retak menahan dahaga. Langkah tetap berjalan setiap hari, meski awan seperti lupa cara menurunkan hujan. Cangkul, mesin, dan tenaga telah lama menulis cerita di tanah. Namun di langit sana ada yang hanya pandai melihat… tanpa merasa. Kemarau ini aneh rasanya, bukan sekadar musim tanpa hujan. Tapi seperti janji yang sengaja dijemur, agar kering… lalu dianggap tak pernah ada. Tiga bulan matahari terus menyala, membakar sabar yang tak pernah dihitung. Lucunya, ladang tetap diminta berbuah, meski airnya ditahan di balik awan. Mungkin beginilah cara sebagian langit bekerja: melihat tanah pecah, mendengar daun mengering, lalu berkata… “Ini hanya musim biasa.” Padahal tanah tahu, kemarau kali ini bukan sekadar cuaca— melainkan diam yang terlalu lama dipelihara. 🌾 Agustinus T