Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN Dady,,,, Meskipun engkau  tak pernah menangis dihadapanku akibat  lelah ataupun letih dalam bekerja, namun ku tau air matamu engkau teteskan saat aku tak berada didekatmu. Sering kali aku melihat seorang istri memarahi suaminya karena sang suami tak mampu memenuhi keinginannya. Sering kali juga kumelihat seorang anak berbicara kasar pada ayahnya karena sang ayah tidak mampu membelikan apa yang disukainya. Kepala keluarga mana yang tak  menginginkan keluarganya bahagia. Sebelum engkau memarahinya, lihatlah dan renungkan apa yang telah dilakukan olehnya. Betapa jeri payahnya kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan anak istrinya agar bahagia. Sadrkah dirimu jikalau suamimu atau ayahmu  sering kali  dicaci maki, dihujat majikannya atau pimpinannya tempatnya bekerja?. Taukah dirimu kalau suamimu atau ayahmu mungkin  mendapatkan cemooan atau kata-kata kasar di luar sana.? Taukah dirimu mungkin suamimu atau ayahmu bahkan baru s...

Di Antara Doa, Air Mata, dan Toga

Gambar
          Foto: Sr. Hironima Tidak ada yang benar-benar tahu betapa berat hidup yang ia pikul, kecuali Tuhan… dan hatinya sendiri. Sejak kecil ia belajar bahwa bahagia kadang harus disimpan dalam diam, dan luka kadang harus ditelan seorang diri agar ibu tidak khawatir, agar adiknya tetap tersenyum dengan caranya yang polos. Ia tumbuh bukan dengan kemewahan, melainkan dengan doanya ibunya yang mengeras seperti tiang menahan rumah yang hampir roboh. Dan dia anak perempuan itu… memilih menjadi suster, karena ia ingin hidupnya menjadi jawaban dari doa-doa yang dulu ibunya ucapkan dalam gelap, sambil menahan tangis. Lalu ia masuk kuliah, di saat banyak orang menyerah karena hidup tak memihak. Ia bertahan, meski kadang harus memilih antara makan atau ongkos, antara tidur atau menyelesaikan tugas, antara menangis atau pura-pura kuat. Ia selalu memilih kuat, Meski hatinya retak. Pernah suatu malam, Saat semua orang tidur, ia ...

“Di Antara Desakan dan Doa”

Gambar
“Di Antara Desakan dan Doa” Di usia dua puluh delapan, aku berjalan sendirian, menyusuri kota asing yang tak pernah menanyakan kabarku. Langkahku berat, bukan karena lelah, tapi karena mimpi yang kupikul di punggungku— mimpi untuk membawamu pulang dengan sah. Di perantauan ini, matahari tak selalu ramah, kadang panasnya seperti mengingatkanku bahwa waktu terus berlari, sementara tabunganku masih merangkak, dan desakan keluargamu makin memadatkan dadaku. "Apa kau siap? Kapan kau melamar?" Pertanyaan itu menghantui seperti bayang-bayang yang muncul tiap aku menutup mata. Seolah perjuanganku tak terlihat, seolah tekadku tak pernah mereka dengar. Namun aku tetap menggenggam harap, seperti menggenggam tanganmu dalam doa yang tak pernah putus. Aku tak lari, aku tak menyerah— meski malam sering datang dengan sunyi yang menusuk. Kupeluk setiap kesakitan, karena aku tahu itu adalah harga dari masa depan yang ingin kuhadiahkan padamu. Sayang, katakan pada mereka— aku bukan ...