Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2024

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN

PELUH PEJUANG KEBAHAGIAAN Dady,,,, Meskipun engkau  tak pernah menangis dihadapanku akibat  lelah ataupun letih dalam bekerja, namun ku tau air matamu engkau teteskan saat aku tak berada didekatmu. Sering kali aku melihat seorang istri memarahi suaminya karena sang suami tak mampu memenuhi keinginannya. Sering kali juga kumelihat seorang anak berbicara kasar pada ayahnya karena sang ayah tidak mampu membelikan apa yang disukainya. Kepala keluarga mana yang tak  menginginkan keluarganya bahagia. Sebelum engkau memarahinya, lihatlah dan renungkan apa yang telah dilakukan olehnya. Betapa jeri payahnya kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan anak istrinya agar bahagia. Sadrkah dirimu jikalau suamimu atau ayahmu  sering kali  dicaci maki, dihujat majikannya atau pimpinannya tempatnya bekerja?. Taukah dirimu kalau suamimu atau ayahmu mungkin  mendapatkan cemooan atau kata-kata kasar di luar sana.? Taukah dirimu mungkin suamimu atau ayahmu bahkan baru s...

Di Persimpangan Takdir

Gambar
Pada jalan sunyi, dua arah bertemu, Kesuksesan yang datang seperti bayu, Menepuk pundak, menggurat senyum penuh makna, Namun tak ada janji ia akan lama. Seperti cahaya mentari di balik awan, Kadang dekat, kadang menghilang dalam kelam, Mengajak kita berlari dan berharap, Tapi bukan milik abadi, bukan akhir kisah kita tetap. Di sisi lain, kematian menanti tenang, Bukan ancaman, hanya kepastian yang datang. Ia memeluk dengan damai, tanpa kata, Mengakhiri lelah, menutup mata. Kesuksesan dan kematian, dua sahabat rahasia, Yang saling berbisik di telinga kita. Tak peduli mana lebih dulu tiba, Yang penting langkah kita penuh makna. Maka, hidup tak sekadar soal menang atau tamat, Tapi bagaimana kita berdamai dengan semua akhir dan awal. Karena takdir tak memilih di mana kita berhenti, Hanya kita yang bisa membuat setiap detik berarti. Agustinus T

simponi dibawah Badai

"Simfoni di Bawah Badai" Gemuruh langit membelah malam, Kilatan petir menari dalam kelam. Rintik hujan berderai tak tertahan, Menitip pesan dari awan yang muram. Badai melantun, suara alam berontak, Pohon-pohon bergoyang dalam taktik tak tertakar. Denting air menghantam atap-atap rapuh, Seolah langit menumpahkan rindu yang penuh. Di sela guntur, ada senyap yang terselip, Sesaat waktu berhenti, rasa tak terlipir. Aku memandang, menerka makna taufan, Seperti jiwa mencari pegangan di lautan. Namun badai tak selamanya berdiam, Ada pagi setelah gelap tersimpan. Begitu pula hidup, terempas dan terjal, Tapi selalu ada terang yang setia menyusul. Jadi biarlah petir mengaum sepuasnya, Hujan menari dan badai menggila. Kita kan tetap di sini, teguh dan berani, Menunggu reda, sambil mencipta harmoni.