LANGIT TAK PERNA MENJAWAB
Aku berdiri sendiri Di bawah langit yang mulai membiru, warnanya tenang, tapi jiwaku hancur, serpihannya tertinggal di jejak-jejak yang tak sempat kutuliskan untukmu. Angin sore menyapa wajahku, seperti sisa bisikanmu yang dulu pernah menenangkan. Kini tinggal bayang, dan semua yang kau janjikan hanyalah gema yang tak pernah kembali. Aku menatap langit, karena hanya ia yang mau mendengarkan tanpa bertanya, tanpa menghakimi betapa lemahnya aku setelah kau pergi. Senyummu masih tinggal di mataku, tapi rasanya seperti lukisan retak yang tak bisa lagi kuperbaiki, karena semua warnanya kau bawa dalam kepergianmu yang tak pernah kupahami. Kau bilang: “Jika rindumu terlalu berat, sampaikan saja pada langit.” Tapi langit terlalu tinggi… dan aku terlalu kecil untuk didengar. Aku menulis namamu di setiap desir angin, berharap kau mendengarnya di suatu tempat mungkin saat kau tertawa dengan dia yang baru, sambil melupakan semua malam yang pernah kita bagi. Kenapa cinta harus sesakit ini? Ke...