“Di Antara Desakan dan Doa”
“Di Antara Desakan dan Doa”
Di usia dua puluh delapan, aku berjalan sendirian,
menyusuri kota asing yang tak pernah menanyakan kabarku.
Langkahku berat, bukan karena lelah,
tapi karena mimpi yang kupikul di punggungku—
mimpi untuk membawamu pulang dengan sah.
Di perantauan ini, matahari tak selalu ramah,
kadang panasnya seperti mengingatkanku
bahwa waktu terus berlari,
sementara tabunganku masih merangkak,
dan desakan keluargamu makin memadatkan dadaku.
"Apa kau siap? Kapan kau melamar?"
Pertanyaan itu menghantui seperti bayang-bayang
yang muncul tiap aku menutup mata.
Seolah perjuanganku tak terlihat,
seolah tekadku tak pernah mereka dengar.
Namun aku tetap menggenggam harap,
seperti menggenggam tanganmu dalam doa yang tak pernah putus.
Aku tak lari, aku tak menyerah—
meski malam sering datang dengan sunyi yang menusuk.
Kupeluk setiap kesakitan,
karena aku tahu itu adalah harga dari masa depan
yang ingin kuhadiahkan padamu.
Sayang, katakan pada mereka—
aku bukan tak ingin menikahkanmu,
aku hanya ingin pulang dengan layak,
membawamu masuk rumah dengan kehormatan penuh,
bukan sekadar tergesa karena tekanan.
Aku lelaki yang kau pilih,
aku lelaki yang sedang berjuang.
Biarkan aku menyelesaikan pertempuran ini
dengan caraku, dengan langkahku,
dengan keringat yang tak pernah berhenti mengalir.
Sampai tiba hari itu—
ketika aku pulang, mengetuk pintu rumahmu,
dan berkata dengan bangga,
“Aku sudah siap, kini mari kita menjadi satu.”
Komentar
Posting Komentar