Kemarau yang Sengaja Dibiarkan

Tiga bulan kemarau menggantung di langit,
tanah retak menahan dahaga.
Langkah tetap berjalan setiap hari,
meski awan seperti lupa cara menurunkan hujan.
Cangkul, mesin, dan tenaga
telah lama menulis cerita di tanah.
Namun di langit sana
ada yang hanya pandai melihat… tanpa merasa.
Kemarau ini aneh rasanya,
bukan sekadar musim tanpa hujan.
Tapi seperti janji yang sengaja dijemur,
agar kering… lalu dianggap tak pernah ada.
Tiga bulan matahari terus menyala,
membakar sabar yang tak pernah dihitung.
Lucunya, ladang tetap diminta berbuah,
meski airnya ditahan di balik awan.
Mungkin beginilah cara sebagian langit bekerja:
melihat tanah pecah,
mendengar daun mengering,
lalu berkata…
“Ini hanya musim biasa.”
Padahal tanah tahu,
kemarau kali ini bukan sekadar cuaca—
melainkan diam yang terlalu lama dipelihara. 🌾

Agustinus T

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RELASI IMAN DAN KEBUDAYAAN DALAM TERANG DOKUMEN KONSILI VATIKAN II GAUDIUM ET SPES ARTIKEL 57

Cerpen: Kain Tenun Rindu

Puisiku bukan tinta