LANGIT TAK PERNA MENJAWAB

 



Aku berdiri sendiri

Di bawah langit yang mulai membiru,

warnanya tenang, tapi jiwaku hancur,

serpihannya tertinggal di jejak-jejak yang tak sempat kutuliskan untukmu.

Angin sore menyapa wajahku,

seperti sisa bisikanmu yang dulu pernah menenangkan.

Kini tinggal bayang,

dan semua yang kau janjikan hanyalah gema yang tak pernah kembali.


Aku menatap langit,

karena hanya ia yang mau mendengarkan

tanpa bertanya,

tanpa menghakimi betapa lemahnya aku setelah kau pergi.

Senyummu masih tinggal di mataku,

tapi rasanya seperti lukisan retak

yang tak bisa lagi kuperbaiki,

karena semua warnanya kau bawa dalam kepergianmu yang tak pernah kupahami.

Kau bilang:

“Jika rindumu terlalu berat, sampaikan saja pada langit.”

Tapi langit terlalu tinggi…

dan aku terlalu kecil untuk didengar.

Aku menulis namamu di setiap desir angin,

berharap kau mendengarnya di suatu tempat

mungkin saat kau tertawa dengan dia yang baru,

sambil melupakan semua malam yang pernah kita bagi.

Kenapa cinta harus sesakit ini?

Kenapa aku harus tetap berdiri,

sementara yang kutunggu bahkan tak menoleh sekalipun?

Aku lelah memungut kenangan.

Setiap langkah membawaku ke luka yang sama,

setiap detik memutar ulang kalimat perpisahanmu,

yang tak pernah bisa kupahami logikanya…

karena hati tak pernah mengenal logika.

Dan ketika malam benar-benar jatuh,

aku bicara lagi pada langit:

“Jika aku hilang esok, tolong simpan rindu ini,

jangan biarkan dia tahu,

bahwa aku pernah bertahan sekuat ini. untuk dia yang memilih pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen: Kain Tenun Rindu

RELASI IMAN DAN KEBUDAYAAN DALAM TERANG DOKUMEN KONSILI VATIKAN II GAUDIUM ET SPES ARTIKEL 57

Di Antara Doa, Air Mata, dan Toga