Postingan

Kemarau yang Sengaja Dibiarkan

Tiga bulan kemarau menggantung di langit, tanah retak menahan dahaga. Langkah tetap berjalan setiap hari, meski awan seperti lupa cara menurunkan hujan. Cangkul, mesin, dan tenaga telah lama menulis cerita di tanah. Namun di langit sana ada yang hanya pandai melihat… tanpa merasa. Kemarau ini aneh rasanya, bukan sekadar musim tanpa hujan. Tapi seperti janji yang sengaja dijemur, agar kering… lalu dianggap tak pernah ada. Tiga bulan matahari terus menyala, membakar sabar yang tak pernah dihitung. Lucunya, ladang tetap diminta berbuah, meski airnya ditahan di balik awan. Mungkin beginilah cara sebagian langit bekerja: melihat tanah pecah, mendengar daun mengering, lalu berkata… “Ini hanya musim biasa.” Padahal tanah tahu, kemarau kali ini bukan sekadar cuaca— melainkan diam yang terlalu lama dipelihara. 🌾 Agustinus T

Di Antara Doa, Air Mata, dan Toga

Gambar
          Foto: Sr. Hironima Tidak ada yang benar-benar tahu betapa berat hidup yang ia pikul, kecuali Tuhan… dan hatinya sendiri. Sejak kecil ia belajar bahwa bahagia kadang harus disimpan dalam diam, dan luka kadang harus ditelan seorang diri agar ibu tidak khawatir, agar adiknya tetap tersenyum dengan caranya yang polos. Ia tumbuh bukan dengan kemewahan, melainkan dengan doanya ibunya yang mengeras seperti tiang menahan rumah yang hampir roboh. Dan dia anak perempuan itu… memilih menjadi suster, karena ia ingin hidupnya menjadi jawaban dari doa-doa yang dulu ibunya ucapkan dalam gelap, sambil menahan tangis. Lalu ia masuk kuliah, di saat banyak orang menyerah karena hidup tak memihak. Ia bertahan, meski kadang harus memilih antara makan atau ongkos, antara tidur atau menyelesaikan tugas, antara menangis atau pura-pura kuat. Ia selalu memilih kuat, Meski hatinya retak. Pernah suatu malam, Saat semua orang tidur, ia ...

“Di Antara Desakan dan Doa”

Gambar
“Di Antara Desakan dan Doa” Di usia dua puluh delapan, aku berjalan sendirian, menyusuri kota asing yang tak pernah menanyakan kabarku. Langkahku berat, bukan karena lelah, tapi karena mimpi yang kupikul di punggungku— mimpi untuk membawamu pulang dengan sah. Di perantauan ini, matahari tak selalu ramah, kadang panasnya seperti mengingatkanku bahwa waktu terus berlari, sementara tabunganku masih merangkak, dan desakan keluargamu makin memadatkan dadaku. "Apa kau siap? Kapan kau melamar?" Pertanyaan itu menghantui seperti bayang-bayang yang muncul tiap aku menutup mata. Seolah perjuanganku tak terlihat, seolah tekadku tak pernah mereka dengar. Namun aku tetap menggenggam harap, seperti menggenggam tanganmu dalam doa yang tak pernah putus. Aku tak lari, aku tak menyerah— meski malam sering datang dengan sunyi yang menusuk. Kupeluk setiap kesakitan, karena aku tahu itu adalah harga dari masa depan yang ingin kuhadiahkan padamu. Sayang, katakan pada mereka— aku bukan ...

Jangan Mengukur Nilai Istri dari Keperawanan

Dalam masyarakat yang masih kerap terjebak pada norma dan stigma lama, sering kali nilai seorang wanita, terutama istri, diukur dari satu aspek sempit: keperawanan. Pandangan ini tidak hanya mengabaikan kompleksitas dan keunikan setiap individu, tetapi juga menempatkan beban moral yang tidak adil pada perempuan. Seorang istri adalah lebih dari sekadar status fisik atau masa lalu ia adalah mitra hidup, pendamping, dan sosok yang berkontribusi dalam berbagai dimensi emosional, intelektual, dan spiritual dalam rumah tangga dan kehidupan bersama. Menerima istri seutuhnya berarti menerima dirinya apa adanya. Nilai seorang perempuan tidak semestinya diukur dari keperawanan, melainkan dari akhlak, kesetiaan, kasih sayang, dan kemampuannya menjadi pasangan hidup yang baik. Menilai perempuan hanya dari status keperawanannya bisa menjadi bentuk ketidakadilan dan merendahkan martabatnya sebagai manusia yang utuh. Perlu diggarisbawahi bahwa perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya ...

Bayangan di Ujung Senja

Gambar
  Di ujung senja yang perlahan redup, Bayangmu hadir tanpa permisi, Seperti luka lama yang tak kunjung sembuh, Mengendap di ruang hati paling sunyi. Langkah-langkahku terpaku diam, Menghitung detik yang kau bawa pergi, Sementara cahaya memudar pelan-pelan, Menyisakan rindu yang tak pernah habis. Kau bagai bayangan yang tak bisa kuraih, Dekat namun selalu menjauh, Ada namun selalu samar, Hadir namun tak pernah utuh. Aku menunggu di batas senja, Tempat janji-janji hilang tak bersisa, Mungkin esok kau tetap bayangan, Atau hanya ilusi yang kian sirna.

JEJAK DI SEBERANG WAKTU

Gambar
Di persimpangan pagi, mentari mendengus lelah, Menatap debu yang beterbangan, tanpa arah. Luruh daun-daun tua, gugur di pangkuan renta, Membisikkan cerita masa, yang tersisa di mata. Di seberang sungai yang menggurat kelam, Langkah tertatih, menenteng impian yang tenggelam  Pada tepian harapan,  suara-suara lirih, Menerawang langit,  merajut doa yang gigih. Waktu renta,  namun tetap setia berpacu, Jejak-jejak renta, berlari melawan pilu. Mendengus angin Membawa harum perjuangan, Luruh bukan akhir, tapi awal kebangkitan. Debu menari di pelataran senja, Seolah memahat kisah-kisah yang lupa. Menenteng rasa, menyeberang duka ke cahaya, Pesan dari masa ke masa, abadi dalam jiwa. AGUSTINUS TAPON

REPUTASI LAKI LAKI

Gambar
Lelaki itu bukan tak bisa mencinta, Tapi hidup menuntutnya lebih dulu bekerja. Sebab dunia menakar harga dada Bukan dari rasa, tapi dari rupa dan harta. Ia tahu, cinta bisa menunggu, Tapi perut tak bisa menanti janji semu. Maka ia memilih peluh di dahi Dari pada rayuan yang tak terbukti nanti. Bagi lelaki, nama baik lahir dari kerja, Bukan dari kata, tapi dari karya. Karena yang dihormati dunia Adalah tangan yang membangun, bukan yang meminta. Lelaki kaya bisa menikahi wanita miskin, dan disebut pahlawan di antara angin. Tapi wanita kaya, menikahi lelaki miskin? Dunia mencibir, penuh sindir dan cemooh dingin. Itulah realita yang tak ditulis dalam buku, Tapi hidup mengajarkannya tanpa ragu. Maka bila lelaki  Terlihat jauh dari cinta, mungkin ia sedang mengejar layak untuk bersamanya. Agustinus T

Puisiku bukan tinta

Gambar
  Puisiku bukan tinta sunyi dari luka yang tak jadi tangis.  Tiap baitnya bukan kata,  reruntuhan doa  tak sempat menembus langit.  berjalan dengan perumpamaan,  terantuk pada metafora miskin makna,  mengendap di sudut halaman  seperti hantu masa lalu  enggan dilupakan.  Puisiku bukan suara,  dengung sunyi tumbuh di dada  setelah gema kehilangan tuannya.  Menua di antara koma dan jeda,  menjadi makam bagi kata-kata  yang terlalu getir untuk diucapkan  terlalu jujur untuk diabaikan.  Bila kau membacanya,  jangan cari cahaya di sela huruf sebab puisiku hanya ingin kau mengerti  bahwa gelap pun butuh rumah.

Jika Suatu Hari Kau Lelah, Nak

Gambar
 Jika Suatu Hari Kau Lelah, Nak Jika suatu hari kau lelah, Nak, dan langkahmu terasa berat  Meski jalan tak menanjak, berhentilah sejenak. Duduklah di sudut sunyi  Yang kau percaya, pejamkan mata,  Dengarkan suara hatimu yang mungkin telah lama  Kau bisukan demi mengejar dunia. Jika suatu hari kau lelah, bukan karena kurang kuat, tapi karena terlalu lama menahan segalanya sendiri. Tak apa menangis, air mata bukan tanda rapuh, melainkan bukti  Bahwa kau masih punya hati Yang belum mati oleh kerasnya hidup. Ketika dunia menuntutmu  Jadi kuat tanpa celah, Ingatlah, bahkan gunung pun tak selalu tegak Ia dilanda hujan, longsor, badai, Namun tetap berdiri, meski dengan luka. Begitu pula dirimu, Nak. Kau tak harus sempurna Untuk tetap berharga. Jika suatu hari kau lelah, Dan pertanyaan tentang hidup menyesakkan dada, Ingat: tak semua jawaban harus kau temukan hari ini. Ada hal-hal yang Tuhan simpan rapi, Agar kau belajar sabar, Dan mengerti bahwa waktu pun bi...

Kurang dari Angka Tiga

Gambar
  Kurang dari Angka Tiga Kita bukan satu, bukan pula dua kita adalah titik koma, yang enggan menjadi akhir namun terlalu sunyi untuk disebut awal. Kau hadir, seperti bayang-bayang senja yang menggenggam cahaya, lalu meletakkannya diam-diam di pelipisku. Langkahmu tak pernah benar-benar pergi, ia membekas dalam detik yang enggan berlalu. Dan tatapmu adalah hujan paling pelan yang pernah jatuh di dadaku. Kita tak pernah selesai, tapi juga tak pernah mulai. Seperti puisi yang lupa bait pertamanya namun hafal rasa di baris terakhirnya. Andai takdir mau berunding dengan waktu, aku ingin menjadi jeda yang kau cari dalam setiap napas yang kau semogakan. Dan bila cinta memang tak harus genap, biarlah aku tetap di sini, menjadi kurang dari angka tiga, tapi lebih dari sekadar pernah.

HARGA DIRI

Gambar
Batu bara yang hitam pekat, terpendam dalam bumi berabad-abad, ditambang, disaring, dihargai tinggi, bukan kaleng-kaleng, bukan sekadar debu di tepi. Lantas bagaimana dengan dirimu, putih mulus bak rembulan penuh, bodi aduhay memikat kalbu, masa cuma dua ratus ribu? Bukan harga yang ingin kubahas, tapi nilai yang tak bisa dibayar tuntas, sebab cinta bukan soal angka, melainkan api yang menyala dalam jiwa. Dan bila nanti kucari jawabnya, kuselami hingga ke dasarnya, bukan sekadar korek membara, tapi cahaya yang takkan sirna.

cahaya di temaram senja

Gambar
Waktu berbuka tiba, Takjil tersaji di meja, Indah senyummu buat hati terpesona. Bukan hanya manis kurma yang kurasa, Tapi hadirmu yang selalu membuat bahagia. Di setiap suapan penuh doa, Semoga kita selalu bersama. Bulan Ramadhan saksi cinta kita, Berkahnya mengikat hati selamanya. Matamu bercahaya di temaram senja, Sehangat cahaya yang redup di jendela. Kau bukan sekadar takjil pemanis rasa, Tapi pelengkap hidup, Anugerah yang nyata. Dalam sujudku kusebut namamu, Memohon restu dalam rindu yang syahdu. Semoga cinta ini kekal abadi, Seperti Ramadhan yang selalu dinanti. aguatinusT

Sampai Hati Kau Lupa

Gambar
  Aku ingat setiap detik yang kita lalui, tawa kecil di ujung senja, janji yang kau bisikkan pelan, katamu, Aku takakan pernah sendirian. Tapi lihatlah kini, kau berjalan tanpa menoleh, tanpa jejak, tanpa pesan, seolah aku hanya kabut di pagi hujan. Sampai hati kau lupa,tentang tangan  Yang dulu kau genggam erat, Tentang rindu yang kau janjikan  Tak akan pudar, Tentang aku, yang kau sebut rumah. Tak apa, biar waktu yang menghapus, Biar angin membawa namamu pergi, Aku hanya ingin bertanya sekali ini, Sampai hati kau lupa…  Apakah aku pernah berarti? Agustinus T

Mari Berlayar Bersama Kenangan

Gambar
  Mari Berlayar Bersama Kenangan Mari berlayar bersama kenangan, di atas gelombang rindu yang pelan, angin membawa bisikan masa silam, dan mentari tenggelam di pelupuk harapan. Di dek ini, jejak kaki kita tertinggal, tawa yang pernah berlayar tanpa gagal, air mata jatuh jadi buih di lautan, dan janji-janji terikat di tiang harapan. Kapal ini saksi perjalanan hati, menghantarkan mimpi ke ujung pelangi, walau badai pernah mengadang jalan, kita tetap berlayar, berpegangan tangan. Mari kita peluk angin senja, dengar lagu ombak yang bercerita, tentang cinta yang tak pernah karam, tentang kita yang selalu bersam. Dan jika malam menutup layar, bintang-bintang jadi lentera penawar, memandu kita di samudra kenangan, hingga dermaga cinta jadi tujuan. AgustinusT

Cahaya di Tengah Gelap

Gambar
Cintia berdiri di tepi jalan, tubuhnya gemetar di bawah guyuran hujan malam. Jakarta tak pernah tidur, tapi bagi Cintia, kota ini adalah labirin tanpa jalan keluar. Matanya yang dulu berbinar kini redup, tersisa bayangan luka dan pengkhianatan. Masih terbayang jelas kejadian itu. Bayu tergeletak tak bernyawa, darah menggenang di lantai, dan sebelum sempat memeluk tubuh suaminya yang dingin, tuduhan sudah melayang. "Ini pasti karena dia!" bisik-bisik penuh kebencian mengiringi kepergiannya dari rumah yang pernah menjadi surga. Di Jakarta, ia belajar bertahan. Pekerjaan yang datang tak selalu baik, tapi ia tak punya pilihan. Sampai suatu malam, di sebuah kafe remang, Adrian mendekatinya. Pria itu tak seperti pelanggan lain — matanya tak menghakimi. “Kamu nggak seharusnya di sini,” kata Adrian lembut. Cintia menahan air matanya. “Aku nggak punya tempat lain.” Adrian tersenyum samar. “Aku juga pernah berpikir begitu. Tapi kita selalu punya pilihan.” Hari demi hari, Adrian menjadi...

"Sebatang Karang di Rantau"

Gambar
            "Sebatang Karang di Rantau" Aku adalah sebatang karang Tegak sendiri di tengah samudra yang garang Diterpa angin rindu, dihantam ombak sepi Tapi tak jua aku goyah, tak jua aku lari Jauh dari tanah tempat aku berakar Dari pelukan ibu yang hangat mengakar Dari tatapan ayah yang diam namun tegar Dari tawa saudara yang kini jadi kenangan yang mekar Di rantau, aku belajar menjadi kuat Menjadi rumah bagi diriku yang penat Menjadi pelipur bagi hati yang terikat Pada bayang-bayang masa lalu yang lekat Malam-malam panjang menjadi sahabat Sepi menjadi bahasa yang amat lekat Tapi aku tahu, ini jalan yang kupilih Meski sendiri, aku takkan letih Karena suatu saat, di ujung perjalanan ini Aku akan pulang, membawa mimpi Dengan dada yang lapang dan hati yang berani Menjadi bukti bahwa sebatang karang pun bisa berdiri Aku di sini, di tanah yang asing namun menantang Menggenggam harapan, menantang gelombang Sebab meski sebatang karang nampak sendiri Ia adalah kek...

KUPU KUPU MELAYANG

Gambar
                Kupu-Kupu Melayang Langit sore berwarna jingga saat Anggia duduk di balkon apartemennya, memandangi hiruk-pikuk kota yang perlahan mereda. Di tangannya, segelas wine merah berputar perlahan, sementara angin lembut mengelus kulitnya. Ia baru saja pulang dari pertemuan bisnis yang melelahkan, tapi pikirannya masih tertahan pada sesuatu yang lebih menggoda atau lebih tepatnya, seseorang. Nathan. Pria itu seperti kupu-kupu yang melayang di sekitarnya—indah, memikat, tapi sulit ditangkap. Mereka pertama kali bertemu di sebuah galeri seni dua bulan lalu. Mata Nathan yang tajam, senyum misteriusnya, dan cara bicaranya yang tenang tapi berbahaya membuat Anggia merasa tertarik. Ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya ingin lebih dekat, lebih jauh, lebih dalam. Suara ketukan di pintu mengganggu lamunannya. Anggia meletakkan gelasnya dan berjalan ke pintu. Saat membukanya, ia menemukan Nathan berdiri di sana, mengenakan kemeja putih deng...

Kepadamu, yang Selalu Kudengar

Gambar
           Valerya_Istri Tersayang Angin berbisik, membawakan namamu, seperti lagu rahasia yang hanya aku tahu. Matahari menyapa lembut setiap pagi, mengirim hangat rinduku yang tak pernah mati. Bintang-bintang berkelip di malam pekat, seolah mata mereka turut menatap, menyimpan setiap kenangan kita yang terpahat, pada langit yang luas, tiada bertepi, tiada tamat. Daun-daun berguguran menuliskan cerita, tentang cinta kita yang tak kenal lelah bertumbuh. Ombak pun menyapu bibir pantai dengan lembutnya, seperti hatiku yang merindukanmu selalu. Dan setiap kali hujan menari di atas bumi, rintik-rintiknya mengucap pesan, bahwa meski jauh, aku tak pernah pergi, karena di setiap hembus, kau adalah tujuan.

Di Persimpangan Takdir

Gambar
Pada jalan sunyi, dua arah bertemu, Kesuksesan yang datang seperti bayu, Menepuk pundak, menggurat senyum penuh makna, Namun tak ada janji ia akan lama. Seperti cahaya mentari di balik awan, Kadang dekat, kadang menghilang dalam kelam, Mengajak kita berlari dan berharap, Tapi bukan milik abadi, bukan akhir kisah kita tetap. Di sisi lain, kematian menanti tenang, Bukan ancaman, hanya kepastian yang datang. Ia memeluk dengan damai, tanpa kata, Mengakhiri lelah, menutup mata. Kesuksesan dan kematian, dua sahabat rahasia, Yang saling berbisik di telinga kita. Tak peduli mana lebih dulu tiba, Yang penting langkah kita penuh makna. Maka, hidup tak sekadar soal menang atau tamat, Tapi bagaimana kita berdamai dengan semua akhir dan awal. Karena takdir tak memilih di mana kita berhenti, Hanya kita yang bisa membuat setiap detik berarti. Agustinus T

simponi dibawah Badai

"Simfoni di Bawah Badai" Gemuruh langit membelah malam, Kilatan petir menari dalam kelam. Rintik hujan berderai tak tertahan, Menitip pesan dari awan yang muram. Badai melantun, suara alam berontak, Pohon-pohon bergoyang dalam taktik tak tertakar. Denting air menghantam atap-atap rapuh, Seolah langit menumpahkan rindu yang penuh. Di sela guntur, ada senyap yang terselip, Sesaat waktu berhenti, rasa tak terlipir. Aku memandang, menerka makna taufan, Seperti jiwa mencari pegangan di lautan. Namun badai tak selamanya berdiam, Ada pagi setelah gelap tersimpan. Begitu pula hidup, terempas dan terjal, Tapi selalu ada terang yang setia menyusul. Jadi biarlah petir mengaum sepuasnya, Hujan menari dan badai menggila. Kita kan tetap di sini, teguh dan berani, Menunggu reda, sambil mencipta harmoni.